Berencana Backpacking? Ini Dia Strateginya #2 (selesai)

Jangan mau ketinggalaaan. Baca juga yang edisi 1. 🙂

6. Tempat Tinggal

Ada dua cara cari tempat tinggal/penginapan ketika backpacking: tinggal di rumah warga atau bukan di rumah warga. Kalau kalian punya kenalan, tinggal hubungi aja si dia tentang kesediannya. Kalau nggak ada, bisa gunakan satu situs sakti buat mencari penginapan via orang lokal: Couchsurfing. Lain kali aku akan bahas seluk-beluk kak Couchsurfing ini buat yang fenasaran. Intinya: situs ini akan mempertemukan kita dengan orang lokal yang membolehkan kita bermalam di rumah/kos/apartemennya dan jadi temen baru kita serta nemenin kita keliling. Bahkan dia bisa ngajak kita ke tempat-tempat yang bisa jadi turis-turis lain nggak tau. Pan seru tuh! Eits, jangan lupa ya bawa cinderamata buat si tuan rumah atas kebaikan hatinya. 😀

Cslogo
img source: dailyvoyager
P1120725
Suasana Fernloft Hostel, Sg. Dok. Pribadi.

Kalau nggak sreg dengan cara pertama atau apes nggak ada orang lokal yang menawarkan diri, maka cara kedua adalah memesan kamar di hostel/losmen/budget hotel/homestay/hotel. Tiap-tiap negara pasti menyediakan berbagai macam tempat penginapan murah. Waah bikin ngilerr. Karena nggak mungkin pesen kamar benar-benar pas baru dateng (riskan, oy. Kalo kehabisan kamar gimana?), maka perlu pesen kamar jauh-jauh hari. Sekarang ini urusan kita semakin dimudahkan dengan tersedianya banyak situs pemesanan penginapan. Favoritku adalah situs Booking.com. Nah, lain kali kita ublek-ublek yah situs ini. Yang paling istimewa dari situs ini: pesan dulu tanpa dp, bayar lunas di tempat. Mau dibatalin? Bisa. Tanpa kena denda apapun pula. Biasanya pembatalan maksimal H-7.

Psst, numpang tidur di bandara juga bisa lho jadi alternatif buat ngirit. Biasanya orang-orang melakukan ini di hari pertama dia sampe di suatu negara dan di hari terakhir dia bepergian. Biasanya pihak bandara sudah maklum dengan fenomena wisatawan tidur di sana. Namun, perlu juga lho baca-baca tentang fenomena ini. Siapa tau bandara yang akan dijadikan sasaran tempat nginep itu tidak direkomendasikan banyak wisatawan atau backpackers sebelumnya karena berbagai macam alasan.

 7. Makan

Tadi sekilas sempet aku bahas mengenai makan. Ketika salah satu misi temen-temen dalam bepergian adalah ngirit, maka salah satu poin anggaran yang bisa banget dipangkas adalah anggaran makan. Aduh ini pasti jadi neraka buat para penggila kulineran. Tapi kalau udah betul-betul niat ngirit duit makan, maju terus pantang mundur!

sangu dari Indonesia
img source: backpackology

Biar nggak merana kelaparan dan jadi manusia tulang, siasati dengan bawa bekal dari rumah. Bawa makanan yang sekiranya lumayan buat meredam perut keroncongan. Tak perlu kenyang. Yang penting bisa ngganjel. Makanan seperti roti, sereal, abon, dan mi instan adalah nominasi makanan favorit yang dibawa kaum backpackers. Khusus roti, karena dia lebih cepat kadaluwarsa, pilih roti yang tanggal kadaluwarsanya masih agak lama. Kalau dapetnya yang tanggal basinya mepet, dia harus dimakan di awal-awal perjalanan kita di sana. Biasanya sih, ada satu lagi sahabat sejati orang Indonesia yang dibawa kalau keluar negeri. Dialah sang primadona: sambal. Yeah!

Appha? Jauh-jauh pergi nggak coba makanan lokal? Rugiiii..! Mungkin beberapa dari kalian punya pemikiran kayak gini. Aku pun 😛 Kadang bawa bekal itu rasanya tetap nggak marem kalau belom icip makanan lokal suatu negara/daerah. Irit boleh, tapi nggak perlu menyiksa diri segitunya sampe nggak coba sajian khas tempat yang dikunjungi. Betul? 😀 Coba cari referensi tempat makan yang murah namun tetap ada cita rasa khasnya.

P1120890
Ananas di Singapura halal lho. Dok. Pribadi.

Buat teman-teman yang Muslim, kehalalan suatu makanan adalah nomor satu. Iya kan? Biasanya akan agak sulit cari makanan yang 100% halal di negara yang mayoritas warganya bukan Muslim. Naah, kalau ini, kalian balik lagi ke keyakinan masing-masing. Ikuti saja kata hati kalian. Kalau yakin, jalan terus. Bismillah aja. Sesungguhnya Dia adalah Yang Mahatahu. Kalau tidak yakin, tidak usah memaksakan diri ikut makan. Daripada menyesal di kemudian hari. 🙂

Satu lagi nih: minum. Udah makan, masa’ nggak minum? Seret dongs. Usahakan teman-teman bawa tempat minum sendiri. Ini akan sangat membantu kelian buat ngirit. Kalau nemu tempat yang sedia isi ulang air minum, manfaatkan dengan maksimal. Sehingga ini bisa meminimalisir kemungkinan teman-teman buat jajan air minum terlalu sering. Kalaupun mau beli, air minum yang satu liter bakal mantep banget tuh buat diminum bareng temen jalan.

 8. Transportasi

Salah satu hal yang akan melancarkan mobilitas kita ketika bepergian adalah transportasi. Perlu banget buat cari tau tentang sistem transportasi di suatu tempat. Ini juga berhubungan lho sama anggaran karena tarif transportasi bisa beda-beda. Di satu negara bisa ada banyak pilihan transportasi yang bisa dimanfaatkan. Rata-rata tiap negara pasti ada berbagai jenis kereta dan bis yang jadi pilihan favorit siapapun. Kalau di Thailand dan Filipina, misalnya, dia juga punya semacam angkot namanya: tuk-tuk dan jeepney. Kalau di negara-negara maju, biasanya kita bisa menemukan tram, atau bahkan bisa sewa sepeda.

IMG_0229
Photo by Nawung Asmoro

Mau yang super irit tapi agak ekstrem? Jalan kakiiii…~ Eh, jangan salah lho. Berjalan juga membantu kita dalam bertualang. Bahkan punya nilai plus: kita jadi bener-bener menikmati “pemandangan” yang terhampar di depan mata. Kita bisa bener-bener belajar tentang kehidupan sehari-hari warga. Tapi memang jarak yang ditempuh jadi jauh lebih terbatas. Kalau menempuh jarak yang lumayan jauh, waktu tempuh juga jauh lebih lama. Nggak apa-apa, itung-itung bakar lemak sekalian olahraga kardio, gaes~

 9. Pengetahuan Umum

Di poin-poin sebelumnya, aku sempat singgung soal “mencari informasi”. Yuhuu, beneraan. Sebelum tiba waktunya kita memulai sebuah petualangan, akan lebih baik kalau kita cari tau informasi dasar tentang tempet yang akan dikunjungi. Lumayan kan buat nambah pengetahuan umum. Setidaknya cari tau tentang kebiasaan orang lokal, apa yang dianggap wajar, apa yang dilarang, lingkungan (macam buang sampah), sistem transportasi, tempat wisata murah atau tanpa biaya, makanan-minuman khas, mata uang, fenomena yang lagi terjadi di sana, dan bahasa. Wah banyak ya. Haha! 😀

Bahasa penting banget lho. Memang nggak harus nunggu fasih dulu dengan bahasa nasional atau bahasa daerah mereka. Setidaknya belajar dulu beberapa ungkapan yang pasti bakal dipraktikkan, seperti: terima kasih, maaf, tolong, kata sapaan, selamat pagi/siang/malam, angka, dan 5W + 1H.

 10. Jadwal

Jadwal perjalanan atau itinerary menurutku perlu dibuat, meskipun bukan sebuah kewajiban. Jadwal ini cuma sebagai pedoman aja, bukan sesuatu yang saklek harus banget diturutin. Toh kalian pergi tanpa jasa agen travel kan. Waktunya lebih bebas dan fleksibel. Tugas bikin jadwal nih bisa dibagi-bagi kalo kalian perginya secara grup. Kalo malez bangetz bikin jadwal yang lengkap kap kap, buat yang kasarannya aja. Misal: jam 3 sampe di bandara, habis itu langsung cus hostel, naruh barang terus cus ke destinasi wisata pertama.

Ada satu lagi nih model jalan-jalan yang asik: nggak bikin jadwal sama sekali. Buat orang-orang yang terbiasa dengan jadwal yang pasti, model macam ini jengkelin bet. Tapi buat yang suka sama kejutan, model ini bisa dicoba. Caranya: 1) diskusi “mau pergi ke mana” baru saat sampai hostel. Modalnya bisa pake internet, bisa ngutak-atik peta, atau tanya ke penjaga hostel, atau 2) bener-bener ngalir. Keluar dari hostel, cuma ngikutin ke mana arah angin menghembuskan nafas cintanya. Etsss.

Pergi ke negara orang dengan jalan backpacking bakal memberi kesan yang berbeda banget daripada pergi dengan mengikuti kegiatan yang membantu kita menghabiskan Rp 0,-. Soal prestisius atau nggak prestisius, biar temen-temen sendiri yang menilai. Hal yang sangat sangat berbeda adalah dari segi manajemennya. Kalau kita ikut suatu kegiatan, jadwal kegiatan sudah ada yang membuatkan. Lain halnya dengan backpacking. Jadwalnya kita sendiri yang bikin bahkan kadang nggak bikin sama sekali. Tapi, cara apapun yang ditempuh, kesempatan bertualang ini dipakai untuk belajar sebanyak-banyaknya. Backpacking bukan sekedar buang-buang uang. Aku yakin setiap petualangan dan perjalanan yang kita lakukan adalah proses pembelajaran.

Salam petualang!

Zidnie Ilma

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s