Menyeret Langkah Membelah Singapura #3 (selesai)

(Sob, percaya dah, ngga bakal lengkap kalo belom mampir ke edisi 1 dan edisi 2~)

Sempat bingung mau lewat pinggir jalan atau kolong rel. Kami putuskan lewat kolong rel saja yang tidak ada kendaraan, jadi lebih aman, meski lebih gelap. Makin lama aku makin curiga kenapa ujungnya malah pangkalan truk? Rony semakin yakin kami salah jalan. Alhasil kami harus terima jalan di rerumputan dan dalam keremangan cahaya lampu jalan di pinggir sana, daripada muter balik ke pinggir jalan yang tadi kan. Malahan kami dapat bonus lihat beberapa MRT yang teronggok di sebuah sudut dan dia tidak dipakai. Ah iya, pas jalan di rerumputan itu, aku juga tengok ke belakang kalau-kalau ada yang membuntuti.

Kami memutuskan untuk kembali ke pinggir jalan setelah keluar dari sana. “Sekarang pokoknya cari jalan yang terang aja ya. Lebih aman daripada yang barusan itu malah bahaya kalo ada orang jahat,” kata Rony. Jalan sudah semakin sepi. Perkantoran juga sudah tutup. Tapi untunglah ada mesin minuman kaleng di luar sebuah pabrik. Oke, istirahat dan beli minum. Untung saja masih ada koin yang bisa dimanfaatkan. Sembari meneguk Si Segar, mataku menerawang keadaan sekitar. Ini membawaku pada kontemplasi sesaat. Ampuni aku, aku betul-betul tidak tau kapan ini akan berakhir dan apakah jalan yang kami ambil ini 100% benar meski hanya bermodal pada jalur MRT. Pokoknya aku pada-Mu.

Rupanya Sang Maha Perkasa tidak salah dalam memberi pertanda. Jalur MRT yang sedari sore jam 5 kami buntuti mengantarkan kami pada stasiun berikutnya: Expo. Syukur alhamdulillah…. Sebentar lagi akan sampai di Changi! Di sini, lagi-lagi kami coba kartunya lagi. Siapa tau ya kan ada keajaiban karena Expo ini dekat sekali dengan Changi. Tapi? Oke, kami harus terima jalan lagi. Semangat.. semangat! Ini terakhir sebelum sampe di Changi! Area sekitar stasiun Expo sedang direnovasi sehingga kami harus lebih melambatkan langkah.

Di samping kiri kami muncul MRT dari bawah tanah sedang di kanan kami gedung-gedung pencakar langit seolah mengejek kami yang sudah tidak karuan bentuknya. Jam setengah 10 malam. Diantara sedikit orang yang masih berkeliaran, aku takjub juga dengan seorang perempuan yang masih berani jalan malam sendirian. Apakah di Singapura seaman itu? Mengingat sedari tadi kami berjalan juga tidak ada satupun orang mencurigakan yang bisa saja punya niat jahat.

IMG_20150327_191346
Di saat yang bersamaan, warga Singapura berjejal mengular di tiap sudut kota demi memberikan penghormatan terakhir untuk Lee Kuan Yew. Dok. Pribadi.

Betapa hati ini berbunga tatkala aku lihat beberapa kali pesawat-pesawat terbang rendah melewati Expo. Sudah semakin dekat!! Berarti memang tidak salah jalan. Kami sempat melewati sebuah universitas yang lapangan sepak bolanya masih diramaikan mahasiswa yang asyik bermain bola. Lurus dari sana, masih terlihat pekerja bangunan shift malam yang melepas penat sejenak. Kami seolah tidak kasat mata di hadapan mereka. Gas pooool. Di kejauhan kami bisa samar-samar melihat lapangan lepas landas Changi. Alhamdulillaaah, benar-benar sebentar lagi. *mata berkaca-kaca*

Karena lihatnya cuma dari jauh, yang kami lihat sebelum Changi itu adalah jalan raya biasa. Oh, bisa lah diseberangin biasa. Eitss, jangan senang dulu! Kami harus melewati sebuah lapangan kosong dan super gelap karena sama sekali tidak ada penerangan. Hanya ada satu mobil muter-muter, mungkin orangnya lagi latihan nyetir. Saking gelapnya itu lapangan, kami putuskan lewat di sebuah jalan setapak dekat suatu pabrik di situ. Lumayan ada lampu meski remang-remang. Lahdalah, ternyata buntu! Mau tidak mau ini mengantarkan kami pada pilihan untuk lewati jalan setapak di lapangan itu. Tentunya, berkali-kali aku tengok belakang untuk memastikan kondisi aman.

Ketika keluar dari sana, hati lega akhirnya bertemu jalan raya dan seberangnya tidak lain tidak bukan… Bandar Udara Internasional Changi! Tapi eh tapi… kok jalannya beda sih. Baru lah kami sadar kalau itu… JALAN TOL! Alamak! Macam mana pula ini kami bisa menyeberang. Malahan jadi santapan empuk untuk kena moncong mobil-mobil. Kami putuskan menepi sambil istirahat dan meneguk air. Sungguh bukan main bingungnya cari cara supaya bisa sampai di seberang. Tidak mungkin naik taksi. Selain tidak punya uang, ya mana ada supir taksi kurang kerjaan yang sudi berhenti di jalan tol demi manusia-manusia bau kecut!

Di sisi lain, pesawat kian terbang rendah dan semakin rendah dan rendah begitu masuk Changi. Saat itu, impian terbesar kami cuma satu: harus bisa sampai seberang sana sebelum subuh. Dikarenakan pesawat tujuan Jakarta dijadwalkan tinggal landas jam 8 pagi esok harinya. Apa iya harus jalan mengikuti jalan tol sampai ketemu ujung sedang kami tidak tau itu berapa kilometer? Huh! Tak sudi! Tenaga benar-benar terkuras. Kaki pegalnya bukan main! Belum lagi semua kendaraan tidak akan segan meneriaki kami dengan klaksonnya.

Sembari berpikir, kami melihat sekeliling, siapa tau ada celah untuk kami menyeberang. Lalu aku melihat sebuah jembatan di suatu ujung tak jauh dari tempat kami berdiri. Tidak sampai 1 km. Tidak ada cara lain selain yang satu ini. Diri harus mantap. Pokoknya harus segera sampai bandara. Bismillah, saudara-saudara, fix kami putuskan: MENYEBERANG JALAN TOL.

east coast
Foto ini persis sekali mengilustrasikan kondisi jalan tol yang diterabas. img source: id.wikipedia.org

Gila? Keterlaluan gilanya! Kalau bukan karena keinginan kuat untuk bertahan hidup, sampai kapanpun kami tidak akan pernah berani menyeberang jalan tol. Terlalu berbahaya! Selain membahayakan nyawa, kami juga mempertaruhkan nama baik bangsa dan negara. Tau sendiri bagaimana Singapura terkait pemberlakuan peraturan. Jangankan menyeberang jalan tol, meludah sembarangan aja bisa kena sanksi!

 

Imajinasi gila menggerayangi otakku. Kalau ditangkap, bisa kena denda ribuan bahkan puluhan ribu dolar. Mana ada duit segitu! Kalau harus hutang, mau berapa tahun bisa dilunasin. Belum lagi resiko lainnya. Naudzubillahi min dzalik…. Ya Allah, kami cuma ingin pulang. Mohon perlindungan-Mu yang sakti mandraguna tiada tandingannya. Kami sangat sadar, perjalanan kami yang bermula dari Jogja hingga bisa detik itu, tak pernah lepas dari pengawasan dan perlindungan Gusti Allah. Bahkan dari pertama kami menghirup udara bumi, hingga sampai kapanpun nanti, hanya Dia pelindung yang paling sakti dan tidak ada lawannya.

Alhamdulillaaah.. Allahu akbar! Begitu terharunya aksi gila penyelamatan diri Dia restui. Di seberang persis, ada bangunan bakal calon terminal 4 sedangkan yang paling dekat terletak lurusss di depan kami adalah terminal 3. Tak perlu sebrang-sebrang tol lagi, hehe. Betul-betul kami ini ibarat ponsel low bat yang mulai muncul notifikasi buat di-charge. Untunglah ada sebuah halte bis. Tak pakai pikir panjang kami terduduk lemas di bangku. Sungguh rasa syukur ini tidak bisa dideskripsikan dengan kata apapun. Meski kami belum sampai di terminal, kami sudah bersyukur sekali bisa dikasih selamat sampai detik itu.

Kebingungan kami terkait jarak terakhir yang harus ditempuh menuju Changi terjawab. Ketika kami masih terduduk lemas, sangat irit bicara, datanglah seorang mahasiswa lokal yang berjalan menuju halte tersebut. Sungguh makin lemas kami ketika dia bilang kalau sebenarnya masih lumayan jauh kalau mau ke terminal 3. Kami pun menceritakan kendala kami. Di luar dugaan, dia menawarkan diri meminjamkan salah satu kartu EZ-Link nya dan bersedia menemani kami naik bis sampai terminal. Sungguh, saudara-saudara, Sang Penguasa Alam Semesta sangat sangat berlaku adil pada ciptaan-Nya. Dia tau bahwa kami berada pada level mentok untuk meneruskan berjalan kaki sampai Changi. Lalu Dia kirimkan bantuan dalam wujud si mas-mas ini.

Bis jalur Changi datang. Ketika kami masuk, si Rony mencoba menempelkan kartu EZ-Link nya ke mesin yang sudah tersedia—sebelum benar-benar menggunakan kartu masnya tadi. Sudah pasrah bakal berakhir apa, ternyata…. criiiinggg… layarnya berwarna HIJAU! Pertanda saldo kartu masih bisa dipakai! Astagaaa, ternyataaa, saldonya masih CUKUP kalau buat naik BIS! Tepok jidaaat! Kok ya baru tau! Kami cuma nyengir satu sama lain setelah tau fakta semacam ini. Kursi dalam bis terasa berkali-kali lipat nyamaaan sekali. Ternyata benar, dari halte tadi, diperlukan waktu sekitar 10-15 menit untuk sampai di terminal 3 Changi. Ttreknya pun harus masuk terowongan bawah tanah yang berakhir di lahan parkir terminal 3. Waah, nggak bisa bayangin itu kalau kami tempuh dengan jalan kaki lagi. Huf…

Jika sebelumnya kami tau kalau saldo minim bisa dipakai untuk naik bis, tentu sudah dari jauh-jauh kami gunakan bis. Namun, tentunya tidak akan pernah terjadi pengalaman gila, seru, miring, dan tak terlupakan macam tadi. Sebuah pengalaman yang bisa dijadikan cerita sepanjang masa. Sebuah pengalaman yang mampu menguji seberapa kuat mental kami ketika diberi misi, termasuk salah satu bagian dari bertahan hidup di tempat orang.

IMG_20150327_184654
Dok. pribadi

Pertanyaannya: bagaimana caranya menyeberang?? Semua jalan tol di dunia pasti dipisahkan oleh pagar besi yang panjaaang dan lumayan tinggi. Sangat sangat berbahaya untuk dilompati. Ingat jembatan yang tadi sempat sekilas aku bahas? Di bawahnya kan ada kolong dan di dekat situ ada jalan belokan. Artinya: sudut jalan disitu pasti lebih sempit daripada jalan yang lurus mulus. Aih, tidak sia-sia dulu aku ambil kelas IPA pas SMA. Haha.. njuk ngopo? Selain itu, kami bisa menyeberang dengan jauh lebih aman karena nggak bakal ditabrak kendaraan dan nggak bakal ketemu CCTV. Kurang kerjaan banget kan menaruh CCTV di kolong jembatan yang gelap dan tidak ada orang.

Kami cari momen yang pas. Ketika sebentar saja jalan di belokan itu sedikit lebih sepi, kami langsung lari menyeberang, dengan sisa tenaga yang kami punya. Langsung cepat-cepat kami menghilang dari pandangan biar tidak ada warga lokal yang curiga. Kami percepat langkah berjalan di bawah kolong jembatan meski napas mulai tersengal. “Pelan-pelan aja. Semangat!” ujar Rony. Sesampainya kami di ujung kolong itu, kami mau tak mau menyeberang lagi agar bisa sampai di tepian jalan. Lagi, kami cari momen yang pas. Agak sepi dan hap! Kami sudah berdiri cantik di pinggir jalan.

Langsung saja kami menghirup napas sedalam-dalamnya. Alhamdulillah, akhirnya impian besar tercapai: tiba di Changi. Dengan selamat dan bebas gangguan orang jahat. Jam setengah 11 malam. Artinya, sudah 5,5 jam kami lalui tekun meniti langkah membelah Singapura. Aku sarankan betul-betul, adegan gila ini tidak direkomendasikan, terutama adegan menyeberang jalan tol. Serius, itu sangat berbahaya! Kami tidak akan pernah melakukan itu kalau tidak kepaksa, kalau tidak punya keinginan bertahan hidup. Kalau mau coba sensasi jalan kaki berjam-jam di suatu tempat, silakan saja. Tapi, nggak perlu pake terabas-terabas jalan bebas hambatan. Ciyus!

Salam wanderlust!
Zidnie Ilma

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s