Menyeret Langkah Membelah Singapura #1

Orkes keroncong dalam perutku akhirnya berhenti menggaungkan suara sumbangnya. Biasanya musik keroncong kan enak didengar tapi aku sendiri nggak paham dengan grup musik keroncong yang bermarkas dalam perutku. Tak pernah sedap didengar. Untunglah sebuah kedai makanan ramah kantong bisa meredam suara sumbang yang mulai mengganggu akal sehatku. All hail buat makcik dan pakcik yang berbaik hati menyediakan makanan bergizi (halal dan mengenyangkan—ini paling utama, haha) untuk kaum petualang papa seperti kami.

Berkelana ke negeri tetangga di saat nilai dolar mencubit urat-urat leher bukanlah perkara mudah. Apalagi, kalo yang dikunjungi adalah si dia tempat tegap berdirinya patung setengah duyung dan setengah singa. Manalagi kalau bukan Singapura. Negara ini dikenal memiliki ongkos hidup yang tidak bisa dibilang rendah. Bukan cuma di level geng Asia Tenggara tapi juga sejagat raya. Nilai kurs-nya untuk rupiah pun, aduhai, amboi, sedaaap sekali!

Merlion
Merlion di malam hari. Photo by Zidnie.

Pun begitu, Singapura menjadi salah satu penyihir buatku pribadi setiap kali ada kesempatan bertandang ke sana. Lingkungannya yang bersih, jalanan yang tidak begitu macet, area pejalan kaki yang aman dan nyaman, pohon disana-sini, dan transportasi umum yang merakyat. Negara ini jadi salah satu destinasi wisata top dunia. Jadi, mungkin itu salah satu faktor yang membuat Singapura ramah buat pengunjung berbagai kalangan, dari kaum jetset sampai petualang gembel. Disuruh balik lagi ke sana? Mau dong, tapi bayarin ya.

Usai melaksanakan kewajiban di sebuah konferensi, kami langsung meninggalkan tempat itu dan berencana ke bandara Changi. Ah, masih jam 3. Pesawat pulang ke Tanah Air masih esok hari. Perut lapar, duit masih ada sisa, kami pun memutuskan untuk mampir cari tempat makan. Dalam perjalananku yang sebelumnya, salah satu temanku sengaja mengajak makan di sebuah kedai murah. Semurah apa syih? SGD 2 bisa dapet: nasi lemak, ayam goreng/sosis, tempura, telur ceplok, dan sambal!

Dalam menginterpretasikan suatu nilai mata uang ketika kita bepergian ke negeri orang, kita musti mengesampingkan perspektif kita yang biasa dengan biaya hidup negeri kita berasal. Misal, di Indonesia, apalagi Jogja, orang sudah terbiasa dengan segala yang murah. Otomatis, SGD 2 yang kalau sekarang dirupiahkan jadi sekitar mendekati Rp 20.000,00 mungkin dinilai lumayan mahal buat seporsi “nasi rames” ala Singapura. Lha wong di Jogja nasi rames bisa kurang Rp 10.000,00. Nah, agar tidak terlalu mengeluh, usahakan untuk tidak terus-terusan membandingkan harga apapun di suatu negara dengan harga apapun di negeri kita berasal. Mengonversikan ke rupiah memang boleh tapi itu hanya hitungan kasar saja. Menurutku, SGD 2 itu murah untuk ukuran “nasi rames” di Negeri Seribu Satu Larangan karena tempat makan lainnya mana ada yang seterjangkau itu, halal, dan benar-benar ngisi perut.

Adalah Ananas Café, sang malaikat penyelamat perut petualang gembel macam kami! Begitu sampai di depan kedai, sungguh tiada yang lebih bersinar selain dia. Tiba-tiba karyawan Ananas adalah manusia paling berhati mulia di seluruh pelosok Singapura. Suaranya bak pelipur lara, biar kata nanya menu seperti nanya kamu habis nyolong duitnya.

Ananas Cafe Kranji
Ananas di Kranji. Photo by Zidnie.

Ananas Café ini macam Olive Chicken atau Jogja Chicken kalau di Jogja. Banyak cabang dia punya. Biasanya tidak akan jauh dari stasiun-stasiun MRT. Tempat kami makan adalah Ananas cabang Aljunied, sebuah kota yang berjarak sebanyak 7 stasiun MRT dengan Changi. Ananas Aljunied ini terletak persis di dekat gerbang masuk stasiun. Jangan dikira yang makan disitu cuma pengunjung asing lho. Warga lokal pun ikutan menghabiskan waktu rehatnya dengan mampir, sekadar meneguk kopi, atau makan besar seperti kami. Ah iya, aku udah bikin tulisan tentang Ananas. Boleh mampir ke sini. 🙂

Masih terekam betul dalam benakku, kala itu uangku masih ada sisa SGD 5. Mayan.. Karena memang lapar dan tidak ada rencana apa-apa lagi di sana selain balik ke bandara, aku rasa sedikit hedon tidak akan jadi dosa. Tak lama berselang, aku melahap waktu dengan leha-leha di Ananas bersama sepiring “nasi rames”. Sengaja kukantongi dua fish cakes buat cemilan kalau-kalau di bandara lapar lagi, hehe. Sedang teman jalanku, Rony K. Pratama, asyik menyantap semangkuk mie laksa lengkap dengan telur. Amboi, surga duniaa.

Jangan kaget jika pertama kali pergi ke kedai, karyawannya akan bertanya, “Makan?” Mungkin kita akan berpikir, “Ya iyalah aku mau makan.” Jika ditanya begitu, maksudnya adalah makan di tempat. Maka, karyawannya akan langsung mengambil nampan berlapis kertas minyak. Yup, di sini piring diganti dengan nampan dan kertas minyak. Makanan langsung ditubruk bergitu aja. Kebayang kan porsinya. Kalau mau dibungkus, bilang saja “take away”.

SAM SG
Menuju Singapore Art Museum. Photo by Rony.

Syahdan, aku berhasil meredamkan suara sumbang musik keroncong dalam perutku. Tepat pukul 5 sore waktu setempat. Warga lokal mulai berlalu lalang memadati koridor stasiun. Pertanda sudah saatnya mereka melepas atribut ke-karyawanannya atau ke-siswaannya. Langit begitu cerahnya sampai tidak bisa dibedakan itu jam 5 atau jam 3. Di beberapa sudut kudapati segerombolan pelajar tengah asyik bersenda gurau sambil menunggu kawan lain yang tak jua menampakkan batang hidungnya.

Di samping Ananas Café Aljunied, juga ada beberapa kedai lainnya, seperti kedai minuman, kue-kue, dan minimarket. Jika suatu saat kalian ke sana dan merasa harga minuman di Ananas Aljunied lumayan tinggi, bisa mampir barang seteguk bubble tea seharga SGD 1.5. Porsinya? Mirip-mirip lah sama bubble tea tersohor di kota-kota di Indonesia. Perut puas, hati gembira, otak bisa berpikir jernih lagi, saatnya mengeluarkan kartu sakti: kartu EZ-Link.

Aku yang pertama mencumbukan kartu EZ-Link dengan mesin yang berfungsi sebagai “gerbang masuk”. Pada sebuah layar berukuran (lebih kurang) 10×8 cm, terpampang barisan angka dan warna layar hijau: pertanda kartunya masih punya “nyawa”. Dan lolos ke babak berikutnya: memasuki koridor bertangga yang menghubungkan langsung dengan ruang tunggu. Kali ini giliran si Rony yang mencoba hal yang sama. Namun, raut mukanya langsung ditekuk. Ada apakah?

Rupa-rupanya warna layarnya merah. Pertanda “nyawa” sekarat buat si kartu. Dia coba lagi tapi hasilnya tetap sama saja. Aku keluar dari “zona aman”. Kuminta dia ulang menempelkan kartunya. Tet tot! setali tiga uang! Kutawarkan rupiah merah supaya bisa top-up kartu (iya, maksudnya ditukar dulu ke SGD lalu top-up), tapi dia enggan. “Cuma sekali pake. Eman-eman,” katanya. Setelah terdiam beberapa saat, lalu dia memutuskan untuk: berjalan kaki sampai ke Changi.

Jalan kaki dari Aljunied sampai ke Changi. Saudara-saudara, mari kita lihat peta MRT dibawah ini. Mohon diperhatikan kotak yang kecil aja ya. Ada 7 stasiun yang harus ditaklukkan demi sampai di Changi dari Aljunied: Paya Lebar-Eunos-Kembangan-Bedok-Tanah Merah-Expo-Changi.

SMRT map edited
img source: http://www.transitlink.com.sg. Edited by Zidnie.

Jarak 7 stasiun dan kami sama sekali tidak tau medannya seperti apa. Meski sudah ditawari sampai berbusa buat duluan saja naik kereta, aku ya mana sampai hati. Hadirin sekalian, keputusan sudah bulat. Kami mulai menjejakkan langkah. Perlahan namun pasti, meninggalkan stasiun MRT Aljunied. Sambil berjalan mirip penguin karena isi perut masih penuh, kami memulai perjalanan kami.

Bersambung ya sob, ke sini…

Advertisements

2 thoughts on “Menyeret Langkah Membelah Singapura #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s