Seperti Anak Kecil

     Lama nggak cerita-cerita di sini, bikin saya kangen. Tahun-tahun sebelumnya saya suka banget cerita ini itu di sini bak anak kecil yang cerita apa-apa ke orang-orang yang dia temui, terlebih ketika bertemu orang tuanya. Saya inget banget dikit-dikit cerita di sini, meski itu hal yang nggak penting banget.

     shareSaya mulai ketawa-ketiwi sendiri ketika ada seorang teman dekat yang mengabadikan cerita-cerita di blog saya menjadi sebuah buku. Hahaha.. saya malah nggak kepikiran sama sekali untuk melakukannya karena yang mendasari saya hanyalah keinginan (dan kebutuhan) bercerita. Makasih banget lho, bro! Dalam buku tersebut, ia memberikan kata-kata pengantar dan penutup yang saya rasa bak langit dan bumi dengan gaya bahasa tulisan saya. Tulisan teman saya bak esai yang serius sedang tulisan saya alakadarnya dan ceplas-ceplos. Nggak masalah sih. Kan gaya bahasa masing-masing nyamannya seperti apa.

     Fyi, buku itu udah dicetak untuk yang kedua kalinya oleh teman saya yang tadi. Ceritanya dia waktu ada tugas ke sebuah negara tetangga dan menjadikan buku tersebut sebagai “buah tangan”. “Buat apa?” tanya saya kala itu sembari membubuhkan tanda tangan saya (dia yang nyuruh). “Ya buat dianalisis aja sama mereka,” jawabnya. Hwaaaahaha.. rasanya pengen kayang! Tulisan ngalor ngidul dijadikan bahan analisis, pembelajaran atau sejenisnya. Yo rapopo sih. Tapi rasanya malu. :blush: Perbedaan yang tertangkap mata di cetakan kedua adalah pemilihan book paper. “Dan beberapa perubahan lainnya,” tambahnya. Aseli terharuuu punya teman yang niat banget. :”)

     Saya nggak membaca semua tulisan dalam buku itu, toh yang nulis saya sendiri :)) Hanya beberapa tulisan saja saya baca. Itupun, satu tulisan belum tentu selesai saya baca karena sudah tak keruan terpingkal-pingkal saya dibuatnya. Bayangpun! Terpingkal-terpingkal dengan tulisan sendiri. Bukan karena saya menceritakan hal-hal lucu–ada sih beberapa–melainkan lebih kepada “kesan” polosnya saya.

     Saya merasa ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, saya benar-benar seperti anak kecil yang hobi cerita bahkan hal yang nggak penting. Ada juga beberapa tulisan yang memiliki nilai moral tersendiri sehingga syukur-syukur kalo ada yang mau dijadikan bahan refleksi. Saya yakin ndeh, itu pasti saya habis kejeduk atau kesetrum. Hahaha.

     Saya juga cerita ke teman saya–yang ngasih buku itu–kalo saya merasa seperti anak kecil ketika mereka ulang memori-memori pasca membaca beberapa tulisan. Namun, dengan sudut pandang manusia berkepala dua yang ke-nol, saya rasa wajar dan sah-sah saja sih mau cerita ini itu. Writing for pleasure.

     Teman-teman sekalian (yang baik banget udah mau baca post ini), sungguh ide yang menarik lho untuk membukukan cerita-cerita kalian. Bisa dijadikan koleksi pribadi dan sarana nostalgi bagaimana sikap atau cara berpikir atau berbahasa pada usia tertentu. Syukur-syukur bisa jadi obat stres kalo lagi jatahnya banyak kerjaan. Kalo saya pribadi, saya ogah baca semua tulisan saya di buku tersebut. Rasanya malu. Hihi. :3 Namun, ada benarnya juga memang kata teman saya bahwa ketika saya membacanya–meski cuma beberapa–saya seakan kembali ‘tersedot’ ke masa lalu menggunakan mesin waktu maya. Saya jadi teringat momen lucu, menyebalkan, tersentuh, sedih. Beruntung saya nggak meng-glorify tentang ‘kesempatan’ saya merasakan patah hati. Hahaha.. keplak!

     Pernah dalam suatu waktu, teman sekelas saya di kelas Sastra tanya kenapa saya nggak pernah nulis lagi di blog. Saya kaget sekali dia bisa bertanya seperti itu karena kami sebelumnya berasal dari kelas berbeda dan jarang–bahkan tidak pernah berinteraksi sebelumnya, hanya sekedar tau nama dan wajah. “Iya, aku kan suka blogwalking. Aku baca-baca postinganmu.” Alamaak.. betapa terharu daku mendengarnya :”) Sebenernya dia bukan orang pertama yang tanya hal itu. Ternyata… masih banyak orang yang luar biasa baik hatinya untuk menyempatkan diri mampir kemari. Sebenernya banyak hal yang ingin saya ceritakan. Dari hari ke hari makin banyak yang aku temui. Hanya saja, saya pikir pantas atau tidaknya untuk diceritakan di sini. Tau kan.. saya ceritanya ceplas-ceplos.

     Saya mau cerita kok habis ini. Tunggu ya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s