‘Jalan yang Tak Kau Sangka’ Berceritera

September/Oktober/November/Desember 2012

     Orangtua saya terlibat diskusi seru terkait tetangga saya yang rumahnya tepat di depan rumah orang tua saya. Saya sengaja nimbrung dalam percakapan itu. Ternyata, tetangga saya yang belum terlalu lama melepas titel mahasiswa S1-nya itu akan segera dipinang. Wah cepat juga, batin saya.

     Sesekali saya melihat seorang lelaki muda berkunjung ke rumah tetangga saya menemui tetangga saya, kak Dita, dan ayahnya, pak Dirman. Inikah sang pangeran penakluk hati tetangga saya yang cerdas nan jelita tersebut?

     Beberapa minggu kemudian, saya melihat ayah saya, yang didaulat menjadi ketua panitia, semakin disibukkan dengan persiapan berbagai perlengkapan. Rupanya hari itu akan tiba. Hari di mana ‘dikuncinya’ pintu hati kak Dita untuk lelaki lain. Khitbah, bukan hitam di atas putih, melainkan tersematnya janji untuk saling menanti hari suci atas ridho dari kedua belah pihak keluarga.

     Saya hanya mengintip dari balik jendela rumah. Antusias, iya. Penasaran, iya. Ndeso, mungkin. Acara lamaran yang dilakukan secara sederhana malam itu berhasil membuat saya terharu dan nggumun. Acara tersebut hanya dihadiri selain pihak keluarga dari kedua belah pihak dan beberapa tetangga sekitar. Rasa penasaran dan haru ini bukanlah ‘dosa’ menurut saya karena ini pertama kalinya saya melihat (meski hanya dari balik jendela rumah) prosesi lamaran dari awal hingga akhir. Terlebih sosok yang dilamar adalah tetangga saya yang jarak usianya hanya empat tahun lebih tua dari saya. Ikatan kultural sebagai tetangga pun menambah suatu rasa. Rasa tentang waktu yang terasa cukup dekat bagi saya.

     Malam itu dia berbalut gaun gamis putih dan berkerudung merah jambu. Cantik sekali. Bidadari surga saja mungkin akan sangat iri kalau melihatnya. Saya tingak-tinguk mencari yang mana sosok pangerannya karena sudah malam dan pencahayaan di luar tidak terlalu terang. Namun nampaknya ini bukan keberuntungan saya. Sulit sekali untuk menemukan sosok itu apalagi jika kau hanya mengintip dari balik jendela rumah. Satu per satu tamu undangan yang hadir menyalami dan memberikan ucapan selamat kepadanya seusai acara. Dengan senyum malu-malu dan saya yakin rona merah menghiasi wajah orientalnya yang manis.

Awal 2013

“Bapak, kak Dita kapan nikahnya?,” tanya saya memecah rasa penasaran.

“Ndak tau, nduk. Mungkin Maret atau pertengahan tahun ini.”

     Saya harus puas dengan dua kalimat di atas dengan kabar simpang siur sedikit mengenai sosok pangerannya kak Dita. Katanya masih muda tapi sudah kerja di Pertamina. Wow. Katanya anak dosen (njuk ngopo?). Katanya ini. Katanya itu. Terlalu banyak katanya-katanya.

Awal Juni 2013

     Saya baru sampai di rumah jam setengah 10 malam. Baru saja selesai mengusir berbagai kotoran di tubuh, saya disuruh orang tua saya untuk segera ke rumah tetangga untuk fitting baju. Fitting baju?

     Hingar bingar terjadi di ruang tamu rumah bernomor 629 A tersebut. Memang banyak sekali baju kebaya dan beskap di sana.

“Ha ini Ilma. Ayo Il, coba dulu kebayanya. Kamu besok jadi penjaga buku tamu,” kata bu Dirman.

Saya mencoba kebaya berukuran M dan simsalabim adakadabrah.. saya cukup pakai itu!! :”) *terharu*

“Weh, Il. Kamu cukup pake ukuran M? Ha kok sama kayak aku. Sekarang kamu kurusan e, Il,” teriak Yolan, tetangga seperkoplakan, adiknya kak Dita. Tidak heran dia merespon seperti itu karena secara kasat mata, dia memang lebih kurus daripada saya.

     Iya juga ya. Daku ternyata sekarang kurusan. Sungguh di luar dugaan. :”) Perasaan yaa di kampus saya cukup sering diejek gendut sama teman-teman. Huf. Ini malah kebaya ukuran M bisa muat. Sungguh mengharukan. :”)

“Ilma mau itu aja? Tapi mosok podho karo Yolan. Coba yang L,” ujar bu Dirman, ibunda Yolan.

     Kenyataannya, ukuran L sedikit longgar di lengan saya dan tetap saja nyaman dipakai. Kak Dita sendiri juga kaget saya muat pakai kebaya ukuran M. “Kamu jangan belajar terus, Il. Sesekali main gitu ke mana. Kuliah nggak usah dibuat spaneng,” ujarnya. Aku nggak spaneng kuliah kok,” sahut saya. -__-

     Saya juga melihat kak Dita fitting baju untuk akad. Model kebaya modern, roknya mekar seperti princess di cerita Cinderella. Pasti dia akan terlihat sangat mempesona di hari pernikahannya kelak.

5 Juli 2013

     Tenda-tenda sudah dipasang sehari sebelumnya di depan rumah, yang berarti di tengah jalan gang. Rumah pak Dirman juga sudah dihias sedemikian rupa dengan rangkaian bunga. Malam nanti akan diadakan acara Malam Midodareni. Malam dimana biasanya, berdasarkan adat Jawa, disandingkan dengan acara seserahan. Malam yang dipercaya turunnya bidadari dari kahyangan ke bumi untuk mempercantik calon pengantin wanita.

     Wejangan dari seorang ustadz menggema hingga ke cakrawala. Namun lagi-lagi, seperti saat prosesi khitbah, saya hanya mengikutinya dari dalam rumah.

6 Juli 2013

     Pukul tujuh pagi saya sudah harus pergi untuk memenuhi kewajiban di kampus sebagai panitia sebuah acara. Ibu saya sudah berpesan untuk pulang cepat karena saya harus dirias. Namun kenyataannya, saya baru sampai rumah pukul tiga sore. Sudah banyak tamu yang hadir dan ini membuat saya mati gaya! Hadeh.

     “Ibu kan sudah bilang, pulangnya cepet. Sana segera mandi. Kamu harus dirias,” kata ibu ‘menyambut’ di bawah tenda. Beliau terlibat perbincangan dengan ibu-ibu yang lain. Saya hanya meringis sambil membungkukkan badan melewati beberapa tamu undangan. Namun saya cukup beruntung karena akad yang akan dilaksanakan di kediaman orang tua sang pengantin wanita belum mulai. Tapi tetap saja sih.. -__-

     Pukul setengah empat sore acara dimulai. Kursi-kursi tamu undangan perlahan mulai terisi. Kamera video, lighting lamp, mulai memadati ruang tamu terlebih saat sang pengantin memasuki ruangan. Aku melihatnya! Itu kak Dita! Itu kak Dita! Aduuh.. minggir sih bapaknya yang di depan pintu situu kan aku mau lihaat, batin saya karena lagi-lagi saya hanya melihat dari dalam rumah. Resiko telat sampai rumah. Meskipun saya hanya bisa mengintip dari celah kecil karena ada bapak-bapak fotografer yang mejeng di depan pintu, saya tetap bisa melihat betapa cantik luar biasa kak Dita sore itu. Aslinya saja sudah cantik, kali ini.. beuh.. tiada bandingannya!

     Kalian yang membaca ini mungkin berpikir bahwa saya orang yang ndeso abis. Plis deh Zid, itu orang nikah, hal yang biaso. Tapi bagi saya, menjadi suatu antusiasme tersendiri karena ini pertama kalinya saya melihat keseluruhan proses dengan mata kepala saya sendiri di usia yang sudah sebegini (padahal ya baru masuk 20). Dulu saya juga pernah melihat prosesi akad tante saya. Namun kala itu saya masih bocah ingusan yang duduk di bangku SMP. Saya mana perhatian dengan hal semacam itu. Saya lebih tertarik bercanda dengan sepupu-sepupu saya. Namun kali ini, entahlah mungkin pengaruh U atau apa.

     Pukul lima, para tamu undangan sudah dipersilakan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan. Di saat seperti inilah, bak tentara yang melihat musuhnya lengah, saya jalan cepat menyeberang menuju rumah pak Dirman untuk segera dirias.

“Weh ini Ilma. Tadi ditunggu-tunggu e”

Hehe.

“Baru pulang po, Il?,” tanya Yolan.

     Saya segera dirias sambil sesekali menyahut percakapan dengan Yolan. Saya baru tau bahwa di balik layar, di saat ijab qabul sudah dilontarkan dengan lancar oleh mas Sigit, suami kak Dita, terjadi keriweuhan, terutama terkait pakaian dan siapa saja yang belum dirias. Waduh, apa besok kalo aku nikah akan terjadi keriweuhan seperti ini? batin saya.

     Pukul tujuh kami berangkat ke tempat walimatul ursy. “Yuk Il, kita harus segera berangkat. Banyak yang harus kita kerjakan,” ujar Yolan. Namanya Graha Widya apa ya, yang jelas letaknya ada di sebelah GOR Amongrogo. Saya belum melihat wajah saya setelah dirias. Namun jika melihat Yolan atau yang lainnya setelah dirias, sepertinya riasannya kece betul.

     Waktu demi waktu berjalan, para tamu undangan mulai berdatangan. Kini saatnya pager ayu beraksi! *singsing lengan kebaya* *nggak jadi* *nanti kebayanya rusak*

Dari sekian ratus tamu yang hadir, ada satu mas-mas yang ganteng. Cuma satu. *sikap*

“Eh Il, masnya ganteng ya,” kata Yolan.

“Iya. Kok sendiri aja mas? Hahaha.”

“Iya kok sendirian sih. Haha. Pager ayu genit. Haha.”

     Sebenarnya saya sangat penasaran sejarah pertemuan kak Dita dengan mas Sigit karena saya tahu bahwa kak Dita sudah sejak lama memutuskan untuk tidak pacaran. Seingat saya, dia juga cukup aktif di wadah kerohanian Islam di fakultasnya dulu. Namun karena kewajiban sebagai penjaga buku tamu, saya harus bersabar untuk menanyakannya.

     Ketika dirasa ada celah, saya pun bertanya pada Yolan terkait sejarah pertemuan kak Dita dan mas Sigit.

     Alkisah *ceilah*, mas Sigit adalah mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2006. Ia adalah orang yang sangat rajin dan serius dalam kuliahnya. Bergabung dalam organisasi pun tidak. Yang ia lakukan adalah menjalani kehidupan akademiknya. Tidak heran ia bisa lulus dengan IP 3,7. Angka yang menurut saya fantastis mengingat dia adalah mahasiswa teknik. Ketika ia lulus, ia minta dikenalkan dengan seorang yang alim dan berparas menawan karena ia ingin memiliki istri. Seseorang tersebut kemudian mengenalkan kak Dita kepada mas Sigit via foto dan seketika ia langsung menaruh hati padanya.

     Nomor telepon genggam sudah di tangan dan aksi ‘permodusan’ pun dilancarkan. Dengan kedok ingin menawarkan bantuan untuk menyelesaikan skripsi kak Dita, mas Sigit mendekati gadis yang aktif di HMI Farmasi saat kuliah tersebut. Padahal kala itu sebenarnya kak Dita sudah selesai dengan skripsinya. Kak Dita menolak dan meminta mas Sigit untuk langsung bertemu dengan ayahnya, pak Dirman.

     Dari cerita Yolan pula, saya jadi tahu bahwa ketika kak Dita baru saja lulus S1, dalam seminggu ada sekitar 4-5 lelaki yang datang ke rumah dengan maksud untuk meminangnya. Namun yang paling sreg di hati kak Dita dan orang tuanya hanyalah mas Sigit. Hal itu dikarenakan ia lah yang paling kalem dan alim dari semua kandidat yang ada. Sehingga ia yang diterima pinangannya.

Saya terdiam sejenak.

“Kok bisa ya, Yol. Kak Dita nikah sama orang nggak dikenal?”

“Nikah sama stranger gitu kan? Ya itulah, kak Dita udah merasa yakin sama mas Sigit. Papa sama mama juga seneng sama dia. Pokoknya dia yakin aja kalo mas Sigit adalah ‘orangnya'”.

     Saya kembali terdiam. Rol-rol memori saya berputar hebat. Apa yang terjadi pada kak Dita jelas datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Dia yang berkomitmen dengan dirinya sendiri untuk tidak memiliki ‘hubungan spesial’ atau pacaran, kemudian sekarang sudah menjadi istri seseorang yang asing dalam hidupnya. Entah kenapa kalau ‘menyentil’ tagline ‘arah yang tidak disangka-sangka’, pikiran saya juga langsung menuju ke kehidupan saya terkait hal tersebut.

     Saya memikirkan perkara asmara? Boro-boro. Namun dari arah yang tidak pernah saya sangka di waktu yang juga tidak pernah saya duga, Dia mengirimkan ‘sosok’. Agak berbeda dengan kisah kak Dita. Apa yang tersemat diantara kami, hanya Dia yang tahu ujungnya. Ibarat kau dititipi benda kesayangan oleh temanmu, kau menjaganya sebaik mungkin hingga tiba saatnya ia menagih. Atau ibarat kau memesan kamar hotel yang indah nan megah untuk suatu saat kau tempati.

“Kamu sekarang punya pacar, Il?’ tanya Yolan memecah bisu.

“Enggak. Aku nggak mengambil jalan itu.”

“Berarti kayak kak Dita dong ya.”

     Ada satu kado yang saya sangat suka dan menurut saya kreatif. Kado dari teman-teman akrab kak Dita. Sebuah piala.

1373122573990

1373122594766

     Saya senang sekali melihat kak Dita malam itu. Ia terlihat luar biasa menawan dengan berbalut gaun biru bertahtakan hiasan berwarna emas, membuat ia tampak amboy eloknya. Mungkin bagi mereka yang segera ingin menikah, akan seketika galau jodoh kalau melihat kak Dita dan mas Sigit malam itu.

     Akhirnya kini rindu dan rasa yang saling terpendam satu sama lain itu dapat dicurahkan dengan cara yang tepat dan sesuai syariat. Jika banyak orang suka berkata “Ini bukan waktu yang tepat!”, maka mereka sudah menjadikannya tepat. Tatap mata yang saling tertunduk malu ketika berbicara satu sama lain, kini telah berganti dengan tatap yang penuh rasa kasih sayang.

Sudahlah, daripada saya pusing sendiri karena ingin sok romantis. -___-

Selamat dan turut berbahagia untuk kak Dita dan mas Sigit. Semoga cinta, ridho, dan barokah-Nya selalu mewarnai tiap nafas kehidupan yang kalian rajut bersama. Semoga pertemuan ini dan kelak perpisahan kalian adalah karena Allah semata.

Sakinah, Mawaddah wa Rahmah.

Barakallahu fikum. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “‘Jalan yang Tak Kau Sangka’ Berceritera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s