Oksigen yang Terasa Serupa tapi Tak Sama

     Udara baru berdesak memasuki alveolus secara bergantian. Sebenarnya kalau mau dibilang baru juga tidak sepenuhnya demikian. Akhirnya kami menginjakkan kaki di kota destinasi kami. Setelah delapan jam harus berpura-pura tahan dengan posisi tubuh yang syukur-syukur bisa diajak bekerjasama untuk terlelap. Meskipun sesekali terbangun karena kedinginan atau berganti posisi yang paling nyaman.

     Pukul lima pagi saya terbangun dan tidak bisa tertidur lagi. Sok juga ini mata. Biasanya saja kalau di rumah, paling sulit untuk mengalahkan kantuk yang mudah sekali menyerang. Teman seperjuangan satu per satu juga mulai terbangun dari istirahatnya yang bak orang akrobat, lipat sana-lipat sini.

     Kami harus menunggu jemputan selama setengah jam. Ngapain ya? Kami bersenda gurau seperti biasa melunturkan rasa pegal selama berjam-jam berakting ala akrobatik di kereta. Pukul delapan pagi, bus kami datang. Namun kami harus menunggu trio AB Three: Puguh, Egi, dan Ratri yang ngacir sebentar ke mushola.

28 Juni 2013, 08:00

Duduk dengan cukup nyaman di kursi nomor tiga  dri belakang supir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s