Summon Up the Memories: Trip to Gunung Kidul

     In tribute to an unforgettable moment happened one year ago, precisely in September, I will try to knit every single piece of memories in this very last day of September. If Greenday states to wake them up when September ends, then I will wake memories up when September almost ends. Saya bakal membangkitkan lagi cerita-cerita yang terukir kala ke Gunung Kidul setahun lalu.

     Sebenernya apa istimewanya sih main ke Gunung Kidul aja sampe dipost begini? Fyi, itu (tahun lalu) pertama kalinya saya kembali ke Gunung Kidul setelah 2 tahun nggak mampir ke sana. Yap! Terakhir kali ke sana pas kelas 2 SMA. Ulalaaa.. lama sekale.

     Berenam bak Power Rangers, kami,  Depi, saya, mbak Dita, Wildan, Rony, dan Delta, menyusun misi mulia untuk survey. Survey sesuatu lah pokoknya. Yang survey ya nggak genep semuanya kok. Kalo boleh dibilang sih, perjalanannya penuh makna. Hambatan yang ditemui selama perjalanan menambah kegayengan suasana. Lumayan buat tambah-tambah bahan cerita.  😀

     Sekitar jam 8an pagi kami memulai perjalanan. Di gunung, jalanan begitu lengang, jadi berasa milik berenam. Kekeke~ Karena lengang, kami menambah laju kendaraan. (mau pake kata ‘kebut-kebutan’ kok kesannya kitanya liar ya -__-)

     Perjalanan berjalan oke-oke aja sampe ketika Wildan menepi, memperlambat lajunya, dan akhirnya berhenti. Bannya bocor! Jegler! Saya dan Depi langsung ambil langkah cari tambal ban yang buka. Nyari sampe jauh ke sana-sini, nggak ada satu pun yang buka. Wah kacau. Rony dan Delta yang udah jauh di depan, saya kabari via telepon tentang kejadian itu. Mereka segera berbalik arah.

     Setelah beberapa menit nyari, alhamdulillah ada satu yang baru buka, waktu yang ada kami gunakan buat tarik napas sejenak dan ngobrol-ngobrol bareng yang punya tambal ban.

     Mungkin sekitar 30 menitan ban udah oke lagi. Kami melanjutkan perjalanan. Di rest area, ternyata ada cegatan. Saya sama Depi sih udah santai-santai aja dengan gaya yang nggak kalah anggunnya sama Snow White, kartu SIM dan STNK kami keluarkan. Sudah terlanjur merasakan angin semilir, ternyata polisinya menyuruh kami ke tepi. Lah.. lah.. lah. Aya naon ieu? Kartunya mah nggak masalah. Ternyata plat nomer motor yang dipake Depi, ketauan platnya nggak asli keluaran samsat. Yah.. 😐 padahal ternyata dia punya yang original di rumah.

     Rony dan Delta selanjutnya yang ikutan ke tepi. Usut punya usut.. mereka bermasalah dengan… SIM. SIMnya si… Rony ki =)). Karena Rony posisinya di depan, sedang yang punya SIM si Delta yang posisinya di belakang, jadi perkara buat polisinya. Delta beralibi kalo dia lagi sakit makanya duduk di belakang. Pak polisinya nggak mau tau. Delta nggak mau kalah. Dia telpon bapaknya (profesinya sama kayak yang nyegat kami). Mereka pengen bernegosiasi.

     Di dekat kerumunan orang antri bayar, Depi, saya, mbak Dita, dan Wildan duduk. Cuma dua yang disebut terakhir yang adem ayem. Depi sih karena ngerti apa yang dimau mereka, langsung aja memutuskan buat bayar. Nah.. impas deh sekarang kita semua kena.

2012-09-15 10.03.22

     Perjalanan kami lanjutkan. Pemberhentian pertama kami ada di sebuah pantai. Hm.. maaf saya tidak ingat nama pantainya. T_T Di sana kami bermain sejenak. Delta, Wildan, dan mbak Dita sibuk mencari hewan laut yang kemudian mereka “kurung” dalam botol minum. Oleh-oleh buat dibawa ke Jogja katanya. Rony asik menulis sesuatu. Sedang saya dan Depi bahagia bertemu air laut. Sebenarnya air lautlah motivasi terbesarnya mau ikut karena udah segitu merindunya.

file191

     Perjalanan kami lanjutkan. Kami berhenti di sebuah pendopo tempat berbagai kegiatan warga berlangsung sembari diceritakan Rony tentang berbagai informasi. Sudah macam tour guide dia. Saya curiga jangan-jangan dia Duta Gunung Kidul.

file176

     Rehat siang, kami memutuskan untuk berhenti di sebuah masjid di sebuah wilayah. Hm.. jangan tanya saya nama wilayahnya. Saya nggak jago dalam mengingat tempat, arah dan nama orang. Setelah tarik napas, kami pun membagi kerja. Ada yang ke wilayah A, B, dan C. Saya dan Depi memutuskan untuk ke arah selatan untuk mencari mangsa untuk diwawancarai dan sok menganalisis keadaan geografis *macak ilmuwan*. Setelah dirasa cukup, kami balik ke tempat transit.

     Setelah melaporkan apa-apa saja yang sudah dilakukan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Awalnya kami berencana untuk melihat sunset di Parangtritis (ingatanku bener nggak ya?). Karena ihwal waktu dan jarak, akhirnya kami memutuskan ke… Indrayanti. 😀

file235file243

     Betapa kala itu saya emang lagi pingin banget ke sana. Alhamdulillah kesampaian meskipun rame banget. Weekend kok ya. Kami tertawa lepas seakan tak ada beban. Kalo mengingat kegilaan kala itu, hanya bisa senyum-senyum sendiri. Hehe.. 🙂

beach

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s