They Called It a Summit, I Will Never Call So (Part1)

     Yuk Zidnie ajak KSBB sejenak, khususnya buat anak-anak hore yang sempet ikut menggila di Malang. Sebenernya ini cerita udah nongkrong berminggu-minggu di draft.. haha. Maaf ya kalo post ini bau.. bau masa lalu. Ups.

     Beberapa minggu yang lalu (tanggal 12 – 14 Oktober), aku bareng 5 orang keci lainnya mancal ke Malang. Meski udah berminggu-minggu yang lalu, memorinya masih begitu membekas di benak dan hati ini. Tsaaaaah!

     Berawal dari SMSnya mbak Rahma pas lebaran kemaren bahwasanya akan diadakan sebuah summit conference atau yang secara harfiah artinya konferensi tingkat tinggi buat hima ke-bahasa-Inggris-an se-Indonesia di Malang dan buka lowongan buat anak EDSA 2011 dan 2010 ikutan ntu acara. Gara-gara aku mikirnya bakal kece abis ini acara, yaudah deh daftar. Kangsenan juga sama si Depi. Ahihi. The thing was…. bayar sendiri. (.___.)

     Ketika pertama kali dikasih kiriman TOR dan rundownnya, ketertarikanku makin naik. Ada sharing akbar, coffee break, seminar dari AMINEF, jalan-jalan, dll. Waktu itu, tulisannya kita bakal nginep di sebuah penginapan. Yaa.. ngga ngerti juga sih penginapannya kayak gimana. Tapiiii pas semakin mendekati hari H, rundownnya yang dikasih ke kami ada beberapa perubahan. Salah satunya, tempat penginapan yang semula tulisannya bakal di penginapan, diganti jadi KODIM. Jeng jeeeng! KODIM? Oke.

         Tanggal 11 Oktober yang lalu jam 8 malem, geng hore yang terdiri dari saya, Depi, Naily, Mbok Dita, Mas Fian, dan Taufik, berangkaaats ke Malang, setelah sebelumnya guling-guling di ruang tunggu. Ekspektasi kami terhadap acaranya cukup tinggi mengingat acaranya skala nasional dan diselenggarakan oleh universitas kondang juga.

     Hawa dingin merambat menembus tulang. Menghantarkan kami kepada alam mimpi sebelum esok siap bertualang. Tanggal 12 di subuh hari, kami sampai di terminal. Bus-bus malam mengantre dengan berisiknya menanti ruang parkir. Ah, pasti supirnya hendak segera melepas penat. Dengan meneteng bawaan kami masing-masing, kami mulai menyusuri jalan terminal mencari sudut untuk ambegan sejenak. Katanya pihak panitia udah ada yang berjaga di sana.

     Bertemu dengan mereka (ya cuma dua orang sih), kami bercengkerama dulu. Kenalan.

“Udah berapa mas yang sampe?” tanya mas Fian.

“Udah banyak mas. Yang dari Aceh udah sampe tadi malam,” jawab masnya.

     Waw, Aceh? Dalam pikiranku, udah nggak bisa ngira-ngira lagi bakal segimana spektakulernya ini acara. Bahkan teman-teman Aceh pun turut serta? Wah.

     Lalu kami bernegosiasi. Karna panitia nggak menyediakan mobil untuk menjemput, kami sepakat untuk naik angkot menuju tempat transit. Wah.. rasanya udah lama sekali nggak naik angkot. 😐 Di dalam angkot, kami berenam bercanda haha hihi. Mbak Dita mengeluarkan camdignya dan aku mulai laporan (liputan). Haha.. ternyata pada berebut cerita. 😀

     Pukul 6. Namun sang surya sudah menyengatkan energinya. Sebagai tanda pula agar orang-orang malas segera beranjak dari kasurnya dan tak mau kalah menyengatkan energinya masing-masing, siap menghajar setumpuk aktivitas. Sekolah bagi para bocah, mengais pundi-pundi uang bagi para pekerja, menyiapkan sarapan bagi para pemilik warung.

     Kami mulai memasuki kawasan perumahan. Sepi menyulur di tiap-tiap sudut. Yah.. khas perumahan. Dalam bayangkanku, perumahan ini tak ubahnya bak sebuah kota kecil yang habis dibom alien dari galaksi antah-berantah. “Kita mau ke rumah transit dulu ya,” ujar mas panitia. Jadi, diantara 2 panitia tadi, 1 mendampingi kami, 1 standby di terminal.

     Rumah mungil tipe 21 (ya kalo bener tipe 21) menyambut kami. Di luar, halaman yang mungil pula, ada beberapa panitia yang udah siap dengan jas almamaternya terlihat sedang ngobrol. Melihat kami turun, mereka menyambut kami. Hm.. tidak terlalu hangat. Tapi buat ukuranku biasa aja sih. “Ayo masuk dulu, istirahat dulu. Dari U*N Jogja, sama dari Semarang udah sampe kok. Bisa ngobrol-ngobrol dulu,” kata salah satu panitia.

      Niatnya sih sampe situ mau mandi. Badan udah lengket nggak karuan, didukung dengan hawa yang mulai memanas. Ternyata.. airnya habis. Hm. Depi, Nai, Mbak Dita, dan aku ditunjukkan sebuah kamar oleh panitia.

“Airnya abis mbka. Gimana dong?”

“Wah abis ya? Yaudah ntar mandi di rektorat aja nggak apa-apa.”

“Acaranya mulai jam berapa mbak?”

“Jam 9 pembukaan tapi ntar jam 7 kita bareng-bareng ke sana ya.”

     Hah? Jam 7? Jam 9? Kayaknya di rundown yang dikirim, habis jumatan gitu deh acaranya. Makanya mbak Dita, Depi, sama aku udah nyusun rencana mau mbolang di Malang dulu sampe sebelum jumatan. Kok nggak ada Nai nya? Nai kan gampang capek, jadinya dia harus banyak-banyak istirahat, itu pertimbangan kami.

     Kami berempat disuruh masuk kamar yang udah disediakan. Ya terserah mau ngapain. Mau tidur, boleh. Mau ndangdutan, boleh. Mau campursarinan, boleh. Pintu kami tutup, kami ngobrol, cerita ini itu, sambil ngemil. Subhanallah.. Naily bawa banyak banget makanan. Berasa isi toko pindah ke situ. :O

     Aku melakukan hal konyol. Waktu mbak Dita mau masuk, dia langsung buka pintunya. Karena aku duduk di pinggir kasur, aku reflek mau nutup lagi pintunya, walhasil aku.. nggelebak ke bawah. 😐 Depi dan Naily terbahak-bahak karena kelakuanku. Oke. Zidnie gadis yang tegar kok. 😐

     Beberapa puluh menit kemudian, mbak panitia menyuruh kami bersiap-siap menuju ke kampus. Di luar sudah ada mobil sedan klasik menanti. Kami berempat masuk. Dengan topi a la seniman nongkrong di atas kepalanya, kemeja, celana 3/4, dan sepatu kets, sungguh sepadan klasiknya dengan mobilnya mamas yang akan nganter kami. Dia membantu kami menata barang di bagasi. Poin plusnya adalah.. mamasnya ini orangnya asik banget diajak ngobrol. 😀 Topik pembicaraan ngalir gitu aja. Dia cerita banyak soal kampusnya sambil sesekali disisipi gelak tawa yang renyah. Tapi dia ngggak tau banyak tentang perkembangan himanya. Angkatan tua, katanya.

     Sampai di kampus dan seusai membantu menurunkan barang kami, dia pamit mau jemput peserta lainnya. Depi dengan muka bersinar-sinar tak rela melepas kepergian mamasnya. Oh ngepens dia rupanya. Emang asik diajak ngobrol sih masnya.

     Kami berempat diarahkan panitia menuju rektorat. Disuruh duduk dulu di sana, sama numpang mandi juga. Kami sebenernya merasa aneh aja mandi di rektorat. Tapi ya daripada nggak mandi sama sekali. Di teras rektorat, kami melihat banyak koper dan tas travel tertata di sana. Oh.. rupanya udah banyak peserta yang sampe. Koper peserta dari Aceh itu yang bikin kepengen. Dengan motif etniknya.. *o*

     Kami berempat bergegas menuju kamar mandi dan memboikotnya. Sesekali terpaksa harus nolak ibu-ibu atau mbak-mbak yang mau ke kamar mandi, karena dipake semua buat mandi.

     Tepat saat kami berempat kelar mandi, Taufik sama mas Fian sampe rektorat. “Udah sana mandi dulu di kamar mandi rektorat,” kata mbak Dita ke mereka. Mereka berdua mandi, kami berempat jajan dulu bakso tusuk. Wah.. bakso tusuk.. *o*

     Perut makin lama makin demo minta diisi makanan. Tentu saja jajannya nggak bikin perut full keisi, cuma buat ngganjel aja. Formasi lengkap, kami tanya panitia soal sarapan. Mereka suruh kami jajan di kafetaria. Hmm.. jajan? Oke. Kami di kafetaria dengan linglung dan sedikit bertanya-tanya kok malah suruh jajan. Tapi yaudah sih.. berhubung perut laper. Rame betul saat itu. Semua spot diisi mahasiswa atau karyawan yang sarapan.

Kami disuruh panitia untuk cepet sedikit karena acara pembukaan akan segera dimulai.

-bersambung-

Advertisements

One thought on “They Called It a Summit, I Will Never Call So (Part1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s