Pelatihan Pengembangan Karakter – Day 1 Part 2

     Penasaran sama lanjutan ceritanyaaa??? Kalo enggak penasaran, aku juga tep bakal nerusin ceritanya og wek. 😛

     Dari 6 peleton yang ada, dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama latihan baris di dalem GOR, sisa 3 peleton lainnya harus urusan sama sinar matahari yang tadi kata rumput sih panas. Aku masuk peleton yang di luar GOR. Latihannya bertempat di lapangan sepakbola FIK. Materi yang diberikan adalah materi dasar: sikap siap sempurna, istirahat di tempat, lencang depan-kanan, hormat, serong, jalan di tempat.

     Waktu gerakan jalan di tempat, aku melakukan sesuatu yang.. aku sadar sepenuhnya kalo aku sok. Habis ya gimana lagi, temponya cepet buanget, kakiku ya pegel lah ndes. Masa’ iya yang lain nggak pegel juga kakinya.

“TEMPONYA!!!”, aku berteriak demikian.

     Sekali lagi, aku sadar kalo aku merasa sok-sokan di situ karena kakiku pegel banget dan nggak ada yang memperlambat tempo ya aku teriak protes aja. Sesaat setelah aku berteriak itu, beberapa peserta dan Sersan melihat ke arahku. Ah bodo amat lah. Udah pegel ini kaki. Aku yakin para Sersan, para peserta yang pernah dapet pelajaran baris di SMP atau SMA, paham maksudku. Untungnya setelah itu, Sersan yang jadi komandan ngasih penjelasan tentang tempo.

     Aku sangat menikmati tiap-tiap detiknya. Men, kapan lagi men. Bodo amat ama panas. Setelah mungkin sekitar 30 menitan latihan baris, kami diajari oleh Sersan… umm.. duh kok pake lupa sih. Hmm.. aduh maaf ya aku lupa namanya e (T_T) kami diajari yel-yel. Yel-yelnya banyak tapi nggak ada yang mengalahkan kuantitas fantastis yel-yel FBS pas ospek. –______–

– “UNY! Are you readyyyy??”

“Ready! Ready! Ready! Pampampam! Pampampam! Pam!”

– “UNY check sound!”

prok prok Hap! prok prok hap! prok prok hap hap hap!

– “Posisi berangkaaat!!”

“Eeeeee… aaaaaa!!!”

– “U-En-Yeee!!”

“Dedikasi tinggi! Prestasi utama! YES!!”

     Sumpih! Gayeng banget! Yel-yel itu nggak bakal berasa gayeng kalo kitanya nggak memperagakan dengan semangat membara. Percayalah! 🙂

3. Ngisi Perut

     Ngisi perut ya, bukan makan. Kalo makan itu dinikmati, kalo ngisi perut itu ya asal perutnya keisi. Kami dikasih waktu 7 menit untuk menghabiskan. Ada yang 2 menit udah selesai. Kami makannya duduknya hadap-hadapan namun tetap dalam barisan. Aku hadep-hadepan sama orang Papua. Ekspresi mukanya tu lho.. banyol abis! Mana dia sukanya digodain sama bapak-bapaknya lagi. –“

“Pa ce, makanmu lama sekali..”, ujar seorang Sersan menggoda.

“Pa ce, sayurnya dimakan itu. Tak suka sayur, e?”, ujar yang lain.

“Wah.. lahap sekali kau makan, pa ce”, sahut yang lain.

“Pa ce, kau asal dari Papua mana?”, tanya Sersan. “Saya dari Fak-Fak”, jawab dia. Sambil mesam-mesem mukanya tak lupa.

     Aku cuma bisa ngampet ketawa dengan situasi seperti itu. Sedang di samping orang Papua itu, seorang laki-laki sukses menghabiskan makan siangnya dalam waktu 2 menit saja. Super sekali! Langsung dipuji sama Sersan.

“Kau makan cepat sekali. Pernah ikut lomba makan cepat?”

“Enggak, Pak. Emang udah biasa makan cepet.”

“Nah..! Bagus itu! Makan cepat habis, kerjaan yang lain juga bisa cepat selesai dikerjakan kan.”

     Aturannya adalah tidak boleh ada nasi, lauk, dan air putih yang tersisa. Aku setuju banget tuh. Orang-orang ada yang kebiasa makan nggak diabisin. Padahal, di luar sana, banyak saudara kita yang susah banget cari makan. Aku suka risih lihat orang nggak ngabisin makanannya. Apalagi pas ada suatu acara, makanannya prasmanan dimana nature-nya prasmanan adalah ambil porsi sesuka hati. Ketika kamu udah ngambil porsi sesuka kamu tapi kamu nggak ngabisin makananmu, wah payah banget.

     Waktu kecil, aku sering banget denger kalo kita makan nasi harus dihabisin, kalo  nggak, nanti nasinya nangis terus minta pertanggungjawaban di akhirat. Entah benar entah salah, tujuannya baik: biar kita nggak menyia-nyiakan makanan, salah satu rizki Allah. 🙂

     Selesai ngisi perut, kami dikasih waktu istirahat selama lebih kurang 30 menit.

4. Seminar Bela Negara

     Saatnya diberi materi lagiiii. Percaya atau tidak, kantuk mulai datang di menit-menit awal seminar. Aku tangkis dengan jurus mencatat materi yang disampaikan, tapi nggak mempan. Malah imbasnya aku nggak bisa baca tulisanku sendiri gegara nulis di bawah pengaruh kantuk. =____=

     Aku berusaha sekuat tenaga biar nggak tidur. Inilah saat-saat tersiksa ketika berada di suatu forum dan kantuk datang, berada di kekalutan antara nerusin tidur atau berusaha menyimak pembicara sambil mata merem-melek. Keduanya memiliki tingkat kemungkinan yang sama terhadap pemahaman materi: sama-sama nggak masyuk. Kalo nerusin tidur, blas nggak dapet materi. Materinya belum sempet masuk telinga, udah mental duluan. hehe… 😀 Kalo ngotot menyimak, materinya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Intinya, sama-sama nggak masuk otak pan. Kekekeke… 😀

     Aku memilih tidur karena emang nggak tahan lagi. -__- Lalu terbangun ketika pembicara memutarkan cuplikan film holiwud tentang meteor besar yang jatuh ke laut terus menimbulkan tsunami dahsyat di Amerika. Seterusnya aku nggak tertidur lagi. Terus mbak-mbak di sampingku bilang ke aku,

“Eh.. ada Sersan yang ganteng ternyata”. Radar Neptunus-ku berdiri. Alarmnya berbunyi. Nguing nguing nguing. “Mana mana?”, tanyaku.

“Itu tuh.”

     *set* aha! Ting tong! Ketemu! Hambok dari tadi kek munculnya. Jadi, dia bertugas sebagai ajudan pembicara. Emang paling bersinar tuips. Lalu aku menamainya Mas Ajudan, habisnya nggak perkenalan sih. Jadi ada 2 yang ganteng. Mas Ajudan yang jadi asistennya langsung dan Mas Ajudan yang jadi operator slide. Mamamia!

     Seminar selesai, pembicara langsung pamitan berikut beserta para ajudannya. Aku melihatnya pergi seperti ada efek slow motion dengan efek dreamy, seraya berkata, “mau kemana, Mas Ajudan? Jangan-ngan-ngan-ngan… pergi-gi-gi-gi…”, dengan adegan tangan yang seolah menggenggam bayangnya. Aku sok puitis ya. Kekeke.. 😛

5. Perkenalan Prajurit dan Sesi Foto Bersama

     Sebagai pamungkas acara, semua Sersan yang menjadi pelatih maju ke depan untuk perkenalan dilanjut foto bersama dengan tiap-tiap peleton. Dari belasan yang ada, cuma 2 yang masih bujangan tapi bukan berarti yomblo lho kak. Tep ngga ada jrejet greget kalo nggak ada Mas Ajudan. Kembalilaaaah~

     Dari kesemuanya, ada satu yang paling galak pas melatih. Sukanya bawa ranting. Kata pimpinannya sih semuanya udah dijinakkan. Temen-temen kelasku yang ikut menamainya Pak Upin. Ahihihi.. Dan tentu saja, 2 temenku yang lainnya tersepona dengan Mas Ajudan.

Dengan sesi ini, berakhirlah Pelatihan Pengembangan Karakter hari pertama! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s